AI Sudah Ada, Tetapi Salah Prioritas dalam Penanganan Emisi Karbon Perkotaan
Artificial intelligence bukan lagi teknologi langka. AI sudah digunakan di berbagai sektor, termasuk di Indonesia. Namun dalam konteks perubahan iklim, khususnya emisi karbon perkotaan, pemanfaatan AI belum menjadi prioritas kebijakan.
AI lebih sering diarahkan ke penggunaan populer dan konsumtif seperti generative AI untuk hiburan dan konten digital. Sementara itu, penerapan AI yang berdampak langsung bagi kepentingan publik masih sangat terbatas. Masalah utamanya bukan pada ketersediaan teknologi, tetapi pada cara berpikir pembuat kebijakan.
Data lingkungan, lalu lintas, dan energi sebenarnya sudah tersedia di banyak kota. Namun data ini jarang diposisikan sebagai aset strategis. Tanpa prioritas yang jelas, AI hanya menjadi simbol kemajuan teknologi tanpa dampak nyata bagi masyarakat.
Dalam isu emisi karbon perkotaan, keterlambatan bertindak membawa konsekuensi serius. Lonjakan emisi tidak terjadi secara tiba-tiba. Polanya dapat dikenali lebih awal jika data dianalisis secara sistematis.
AI mampu membantu pemerintah kota mengenali pola tersebut. Namun selama AI tidak ditempatkan sebagai alat bantu kebijakan lingkungan, potensi ini akan terus terbuang.
AI seharusnya diposisikan sebagai infrastruktur keputusan publik. Prioritas penggunaannya perlu diarahkan ke masalah berdampak luas seperti kualitas udara, kemacetan, dan konsumsi energi perkotaan.
Ketika perubahan iklim semakin memburuk, memilih untuk tidak memanfaatkan teknologi yang tersedia merupakan bentuk kelalaian kebijakan. Pemerintah kota memiliki peran strategis untuk memastikan AI digunakan demi melindungi kualitas hidup warga.
Opini ini tidak menolak generative AI atau inovasi lain. Namun dalam konteks krisis iklim, prioritas harus jelas. AI untuk prediksi dan pengendalian emisi karbon memiliki nilai publik yang jauh lebih besar.